Sering Dislokasi Siku, Bisakah Sembuh?

Selasa, 20 September 2022
Flex Free
Selasa, 20 September 2022
Flex Free

Satu kecelakaan membuat Anda mengalami dislokasi siku, setelah sembuh, siku Anda kembali mengalami dislokasi, mengapa begitu?

Dislokasi Siku

Dislokasi siku adalah kondisi ketika permukaan sendi siku terpisah. Siku adalah sendi kedua tersering yang mengalami dislokasi pada orang dewasa (setelah bahu).

Dislokasi siku dapat terjadi sebagian atau seluruhnya. Pada dislokasi total, permukaan sendi terpisah sepenuhnya. Pada dislokasi sebagian, permukaan sendi hanya terpisah sebagian. Dislokasi sebagian juga disebut dengan subluksasi.  

Anatomi Siku

Siku terbentuk dari tulang lengan atas (humerus) dan dua tulang lengan bawah (radius and ulna).

anatomi siku

Pada bagian dalam dan luar sisi siku, terdapat ligamen yang menahan siku pada tempatnya dan mencegah terjadinya dislokasi. Otot-otot yang menyilang di sendi siku juga berperan pada stabilitas sendi.

Mengapa Terjadi Dislokasi Siku Berulang?

Siku dapat mengalami dislokasi berulang bila sendi siku tidak stabil atau longgar (disebut dengan instabilitas siku).

Instabilitas siku dapat menyebabkan sendi siku tergelincir keluar saat melakukan gerakan tertentu, sehingga terjadi dislokasi siku berulang.

Instabilitas siku paling sering terjadi akibat cedera.

Penderitanya juga dapat merasakan sakit saat mengangkat benda berat atau melakukan gerakan tertentu.

Gejala lainnya antara lain:

  • nyeri saat melempar
  • rasa tidak stabil
  • siku mengunci
  • mengeluarkan bunyi ‘klik’

Sensasi seperti siku akan lepas biasanya dirasakan saat mendorong kursi.

Pemeriksaan oleh Dokter

  1. Riwayat Penyakit dan Pemeriksaan Fisik

Dokter akan menanyakan riwayat cedera atau keluhan pada siku Anda. Setelah itu, dokter akan melakukan pemeriksaan siku, untuk mengetahui apakah ada area yang nyeri, atau ada perubahan bentuk siku.

Dokter juga akan meminta Anda untuk menggerakkan lengan ke berbagai arah untuk memeriksa instabilitas atau sensasi siku ingin lepas. Selain itu dokter akan memeriksa kekuatan lengan untuk mengetahui apakah ada cedera saraf.

  1. Pemeriksaan Penciraan

rontgen siku

Rontgen. Pemeriksaan ini dilakukan untuk mengetahui apakah ada patah tulang, dislokasi atau perubahan pada kesejajaran siku.

Magnetic resonance imaging (MRI). MRI dapat memberikan gambaran yang lebih jelas dibandingkan rontgen. MRI dapat menunjukkan robekan ligamen, otot, atau tendon. Pemeriksaan MRI biasanya tidak diperlukan.

Bagaimana Cara Mengatasi Siku yang Sering Dislokasi?

Terapi fisik biasanya efektif untuk mengatasi pasien yang sering dislokasi siku.

Penanganan Non-Bedah

Penanganan non bedah untuk siku yang sering dislokasi yaitu:

  • Terapi fisik. Latihan khusus untuk menguatkan otot-otot di sekitar siku dapat memperbaiki gejala.
  • Modifikasi aktivitas. Gejala juga dapat berkurang dengan membatasi aktivitas yang dapat menyebabkan nyeri atau instabilitas.

brace dislokasi siku

  • Brace. Penggunaan brace dapat membantu membatasi nyeri ketika bergerak dan menstabilkan siku.
  • Obat-obat anti radang non steroid. Obat golongan ini dapat digunakan untuk membantu mengurangi nyeri.

Penanganan Pembedahan

Orang yang sering mengalami dislokasi siku mungkin memerlukan pembedahan atau operasi.

  • Rekonstruksi ligamen. Sebagian besar robekan ligament tidak dapat dijahit kembali. Untuk memperbaiki cedera dan mengembalikan kekuatan dan stabilitas siku, dokter mungkin perlu melakukan rekonstruksi ligamen. Rekonstruksi dilakukan dengan menggantikan ligamen yang robek dengan jaringan graft. Pada sebagian besar kasus, penggantian dilakukan dengan menggunakan tendon milik pasien sendiri, tetapi bisa juga menggunakan donor.
  • Perbaikan ligamen. Pada kasus di mana cedera baru terjadi dan sisa jaringan lunak cukup sehat, dokter akan memperbaiki ligamen dengan menjahitnya.
  • Fiksasi fraktur. Pasien yang sikunya tidak stabil yang disertai fraktur atau patah tulang juga memerlukan penanganan patah tulangnya selain ligamen yang robek.

Masa Penyembuhan setelah Operasi

Setelah operasi, selama satu minggu Anda akan menggunakan splint untuk melindungi siku.

Terapi rehabilitasi dimulai pada minggu kedua setelah operasi. Splint akan digantikan dengan brace yang membatasi gerakan siku menekuk atau lurus, tetapi masih dapat melakukan latihan untuk memperbaiki kisaran gerak sendi siku. Bila dilakukan dengan teratur, kisaran gerak sendi siku dapat kembali sempurna pada minggu ke 6 hingga 10 setelah operasi.

Latihan penguatan seringkali dilakukan 3 bulan setelah prosedur operasi. Pasien biasanya dapat kembali ke aktivitas normal setelah 6 hingga 12 bulan pasca operasi.

Pada atlet yang menggunakan gerakan melempar, dapat diperlukan waktu hingga 1 tahun untuk kembali berkompetisi.

 

 

 

Referensi:

  • https://orthoinfo.aaos.org/en/diseases--conditions/recurrent-and-chronic-elbow-instability/
  • https://www.reboundmd.com/news/elbow-instability-causes-treatment

Buat Kunjungan

Anda dapat menerima layanan dengan mengunjungi salah satu cabang kami.

Klinik Flex-Free Jakarta Utara

Ruko Italian Walk J No. 19, Dekat Pintu Masuk Gate C, Mall of Indonesia, Jl. Raya Boulevard Barat, Kelapa Gading, Jakarta Utara

Lihat di Peta Kirim Pesan WhatsApp Telp: +62214514421

Klinik Flex-Free Bandung

Jl. Terusan Pasir Koja No 153/67, Kelurahan Panjunan, Kecamatan Astanaanyar, Kota Bandung, Jawa Barat

Lihat di Peta Kirim Pesan WhatsApp Telp: +622220580806

Klinik Flex-Free Jakarta Selatan

The Bellezza Shopping Arcade, Lantai dasar Unit SA58-60, (Ex Food Hall, Lobby Timur), Jalan Arteri Permata Hijau No.34, Kebayoran Lama, Jakarta Selatan, DKI Jakarta

Lihat di Peta Kirim Pesan WhatsApp Telp: +622125675561