Nyeri bokong saat berjalan bisa disebabkan oleh berbagai kondisi ortopedi dan neurologi. Salah satunya adalah disfungsi sendi sakroiliaka (SIJ), yaitu gangguan sendi panggul yang menghubungkan tulang belakang bagian bawah (sakrum) dengan tulang panggul (iliaka).
Saat sendi ini mengalami peradangan, kelebihan gerakan, atau kaku, penderita sering merasakan nyeri bokong, terutama saat berjalan atau berdiri lama.
Namun, penyebab nyeri bokong saat berjalan tidak hanya SIJ; keluhan serupa dapat timbul akibat saraf terjepit (seperti linu panggul atau piriformis), cedera otot pinggul, atau bahkan masalah pinggul dan punggung bawah lain.
Penting untuk mengenali penyebab nyeri bokong saat berjalan agar terapi yang tepat dapat dilakukan.
1) Penyebab Nyeri Bokong Saat Berjalan
Banyak hal dapat memicu nyeri bokong saat berjalan. Beberapa penyebab utama meliputi:
- Disfungsi Sendi Sakroiliaka (SIJ) – Ketegangan berlebihan, peradangan, atau pergeseran di sendi SIJ dapat menyebabkan nyeri tajam di bokong yang terasa makin sakit saat berjalan atau naik tangga.
- Hernia Nukleus Pulposus (Linu Panggul) – Saraf skiatik terjepit akibat penonjolan cakram tulang belakang dapat menimbulkan nyeri pada bokong yang menjalar ke paha. Rasa nyeri biasanya membaik jika berbaring dan bertambah saat berjalan atau berdiri.
- Sindrom Piriformis – Otot piriformis yang tegang dapat menekan saraf siatik sehingga mengakibatkan nyeri bokong saat berjalan. Rasa sakit sering terasa “menusuk” di bokong dan memburuk saat duduk lama atau menggerakkan pinggul.
- Osteoartritis Pinggul – Pengapuran sendi panggul dapat menimbulkan nyeri pada panggul dan bokong, yang cenderung terasa lebih berat saat berjalan.
- Cedera Otot atau Ligamen – Kelelahan atau robekan otot bokong (misalnya gluteus maximus atau piriformis) akibat olahraga berat juga dapat menyebabkan nyeri bokong saat beraktivitas.
- Masalah Postur dan Ketidakseimbangan – Tinggi badan atau panjang kaki yang berbeda, postur berjalan tidak seimbang, atau ketegangan otot panggul dapat memberi beban tidak merata pada sendi panggul, memicu nyeri bokong saat berjalan.
Pada disfungsi SIJ khususnya, keluhan nyeri bokong sering bersifat lokal di area panggul atau bokong (disebut area Fortin). Rasa sakitnya dapat bertambah saat berdiri lama, berjalan cepat, berlari, atau naik tangga. Faktor risiko disfungsi sendi sakroiliaka meliputi cedera panggul, kehamilan (hormon membuat ligamen panggul meregang), pekerjaan atau olahraga berat yang memberi beban berulang pada pinggul, serta penyakit sendi inflamasi seperti radang sendi tulang belakang.
2) Gejala Lain Disfungsi Sendi Sakroiliaka Selain Nyeri Bokong Saat Berjalan
Selain nyeri bokong saat berjalan, penderita disfungsi sendi sakroiliaka dapat merasakan gejala lain, antara lain:
- Nyeri Punggung Bawah – Banyak pasien mengeluh nyeri pada punggung bawah yang menjalar sampai bokong. Rasa ini sering kali mirip nyeri pinggang biasa.
- Nyeri Menjalar ke Paha – Nyeri SIJ kadang terasa menjalar ke pantat bagian atas, pinggul, paha, bahkan betis. Lokasi radiasi ini bisa meniru gejala linu panggul.
- Kekakuan Pinggul dan Bokong – Terutama saat bangun tidur atau setelah duduk lama, penderita mungkin merasakan kaku di sekitar pinggul, panggul, atau bokong. Kekakuan ini biasanya berkurang setelah bergerak.
- Nyeri Saat Duduk atau Berdiri Lama – Duduk terlalu lama atau berdiri lama dapat memperparah nyeri SIJ. Beranjak dari duduk ke berdiri pun kadang memicu nyeri tajam di bokong.
- Rasa Tak Nyaman Saat Bergerak Tertentu – Beberapa gerakan seperti memutar pinggul, membungkuk ke depan, atau membalik tubuh tiba-tiba dapat menyebabkan nyeri tajam di sendi SIJ.
- Pingsan atau Kesemutan pada Kaki (Jarang) – Jika disfungsi SIJ bertekanan cukup kuat pada saraf yang melewati pinggul, kadang bisa timbul rasa kesemutan ringan di kaki. Namun, gejala neurologis berat lebih sering karena kelainan tulang belakang daripada SIJ murni.
Intinya, selain nyeri bokong saat berjalan, peradangan atau ketegangan pada sendi sakroiliaka seringkali menyebabkan nyeri punggung bawah yang menetap serta rasa tidak nyaman saat bergerak atau duduk lama. Jika gejala seperti nyeri bokong terus-menerus muncul terutama setelah aktivitas fisik, perlu dicurigai SIJ sebagai penyebab
3) Penanganan di Rumah Nyeri Bokong Saat Berjalan karena Disfungsi SIJ
Bila nyeri bokong saat berjalan disebabkan oleh disfungsi sendi sakroiliaka dan masih tergolong ringan, beberapa langkah penanganan mandiri dapat membantu meringankan keluhan:
- Istirahat Ringan dan Hindari Beban Berlebih: Kurangi aktivitas yang memicu nyeri, misalnya naik turun tangga, berlari, atau berjalan jauh. Namun, hindari juga duduk atau berbaring terlalu lama agar otot pinggul tidak kaku.
- Kompres Dingin/Hangat: Pada 1–2 hari pertama nyeri kambuh, kompres es pada area pinggul dapat membantu meredakan peradangan dan nyeri. Setelah itu, kompres hangat dapat melancarkan sirkulasi dan meredakan kekakuan otot. Gunakan secara bergantian seperlunya (misalnya 15–20 menit setiap beberapa jam).
- Obat Pereda Nyeri Ringan: Obat-obatan bebas seperti parasetamol dapat digunakan sesuai dosis petunjuk untuk mengurangi nyeri. Hindari penggunaan NSAID (seperti ibuprofen) dalam jangka panjang tanpa anjuran dokter, karena bisa menghambat proses perbaikan jaringan.
- Postur dan Posisi yang Baik: Perhatikan posisi tubuh saat duduk atau berdiri. Duduklah dengan punggung tegak dan tumpukan kecil di bawah pinggul jika perlu. Hindari menyilangkan kaki terlalu lama. Saat berjalan, jaga agar beban tubuh terdistribusi merata (mungkin gunakan tongkat jika nyeri sangat mengganggu).
- Alat Bantu dan Penyangga: Sabuk khusus SIJ (sacroiliac belt) bisa membantu menstabilkan panggul dan mengurangi gerakan sendi sakroiliaka saat berjalan. Penggunaan bantal di antara lutut saat tidur menyamping juga membantu menurunkan tekanan pinggul saat berbaring.
- Peregangan Ringan: Lakukan gerakan peregangan ringan untuk otot pinggul dan punggung bawah beberapa kali sehari. Contohnya, peregangan paha belakang (hamstring), otot panggul depan, dan otot gluteus (bokong). Gerakan sederhana seperti menggerakkan pinggul maju mundur (pelvic tilt) atau berbaring di lantai sambil menggulung lutut ke dada dapat mengurangi ketegangan.
- Kondisi Kehamilan: Jika nyeri SIJ terjadi saat hamil, upaya penyangga perut dan latihan ringan yang direkomendasikan dokter dapat membantu mencegah kerenggangan berlebih.
Langkah-langkah di atas bersifat pendukung. Jika nyeri bokong saat berjalan terus berlanjut lebih dari beberapa hari atau memburuk, sebaiknya segera periksakan ke dokter spesialis kedokteran fisik dan rehabilitasi untuk evaluasi lebih lanjut.
4) Rehabilitasi dan Intervensi Disfungsi Sendi Sakroiliaka
Penanganan medis untuk disfungsi SIJ bertujuan mengurangi nyeri, memperbaiki stabilitas panggul, dan memulihkan fungsi. Berikut ini rehabilitasi dan intervensi yang umum dilakukan:
- Terapi Fisik: Ini merupakan tatalaksana utama rehabilitatif disfungsi SIJ. Program fisioterapi meliputi latihan stabilisasi panggul dan inti tubuh (core stability). Latihan penguatan otot-otot gluteus (bokong), perut bagian dalam, punggung bawah, serta otot panggul penting untuk menyeimbangkan tekanan pada SIJ. Contohnya: bridging (mengangkat pinggul ke atas), clamshell, plank sisi, dan latihan abdominal gentle (pengencangan perut) dapat memperkuat otot penstabil panggul. Fisioterapis juga akan mengajarkan cara bernapas dan mengaktifkan otot dasar panggul untuk menambah stabilitas sendi.
- Peregangan dan Mobilisasi: Selain penguatan, latihan peregangan otot-otot yang menegang seperti piriformis, hamstring, dan fleksor pinggul sangat membantu mengurangi tekanan pada sendi sakroiliaka. Mobilisasi SIJ manual oleh fisioterapis juga dapat meredakan ketegangan sendi dan menambah kelenturan.
- Terapi Manual: Pijat atau terapi jaringan lunak pada otot bokong, pinggul, dan punggung bawah dapat mengurangi nyeri dan spasma otot pendukung sendi SIJ. Mobilisasi pasif sendi panggul sesuai kebutuhan juga sering dilakukan oleh ahli terapi fisik.
- Penggunaan Sabuk SIJ: Sabuk elastis khusus yang dikenakan di pinggul dapat membantu menstabilkan sendi sakroiliaka saat beraktivitas. Hal ini mengurangi gerakan sendi berlebih dan memberi dukungan ekstra pada ligamen panggul.
- Obat-obatan: Selain terapi fisik, dokter mungkin meresepkan obat penghilang rasa sakit atau antiinflamasi (OAINS) untuk meredakan nyeri dan bengkak pada sendi. Jika ada ketegangan otot, relaksan otot juga dapat diberikan.
- Suntikan Intra-artikular (Intervensi Medis): Untuk nyeri yang tidak sembuh dengan terapi konservatif, dokter dapat melakukan injeksi ke sendi sakroiliaka.
- Kortikosteroid: Suntikan steroid ke dalam SIJ sangat efektif menurunkan peradangan dan nyeri dalam waktu singkat. Biasanya diberikan jika nyeri sangat mengganggu fungsi sehari-hari. Efeknya bisa bertahan beberapa minggu sampai bulan.
- Suntikan Anestesi Lokal: Terkadang suntikan lokal dengan anestesi dilakukan sebagai tes diagnostik; jika nyeri hilang sementara, ini menegaskan sumber masalah di sendi SIJ.
- Terapi Regeneratif (Biologis): Beberapa suntikan berbasis biologi kini digunakan sebagai intervensi regeneratif untuk SIJ. Contoh terbaru adalah Platelet-Rich Plasma (PRP), yaitu pengambilan plasma darah kaya trombosit pasien sendiri yang disuntikkan ke sendi. PRP mengandung faktor pertumbuhan yang dapat membantu proses penyembuhan jaringan sendi. Penelitian menunjukkan satu kali injeksi PRP dapat mengurangi nyeri SIJ lebih lama daripada steroid, karena PRP memicu regenerasi ligamen dan tulang rawan secara bertahap. Selain PRP, proloterapi (suntik dekstrosa) juga termasuk terapi regeneratif yang kadang digunakan untuk memperbaiki ligamen panggul yang kendur.
- Viscosupplementation (Asam Hialuronat): Suntikan pelumas sendi seperti asam hialuronat juga tengah diteliti untuk SIJ. Asam hialuronat dapat memperbaiki viskositas cairan sendi dan meredakan inflamasi, meski pemakaiannya lebih umum di lutut.
- Terapi Sel Punca: Penggunaan sel punca (misal sel mesenkimal) untuk merangsang regenerasi SIJ masih dalam tahap penelitian awal.
- Pemasangan Alat Stimulasi: Pada kasus nyeri SIJ berat yang menetap, opsi pemasangan elektroda stimulasi saraf (neurostimulator) atau terapi ablasi frekuensi radio bisa menjadi pertimbangan ahli nyeri untuk mengurangi sinyal nyeri dari sendi.
- Intervensi Lain: Jika disfungsi SIJ terjadi bersamaan dengan gangguan struktur lain (seperti kebengkokan tulang belakang), rehabilitasi dapat mencakup penanganan kondisi tersebut juga.
Anda dapat menerima layanan dengan mengunjungi salah satu cabang kami.