Pernah Nyeri Leher Menjalar ? Yuk Kenalan Sama Thoracic Outlet Syndrome (TOS) Tipe 1!

Senin, 22 Juni 2026
dr. Ferdinand Dennis K, SP.K.F.R.,
Senin, 22 Juni 2026
dr. Ferdinand Dennis K, SP.K.F.R.,

Nyeri leher menjalar berarti keluhan sakit yang bermula di leher dan menyebar ke bahu, lengan, atau bahkan tangan. Rasa nyeri ini sering kali disertai sensasi kesemutan, baal, atau lemah pada bahu dan lengan. Penyebab nyeri leher menjalar sangat beragam. Penyebab paling umum meliputi gangguan tulang leher (serviks) seperti hernia diskus leher, osteoartritis, atau ketegangan otot leher dan bahu akibat postur buruk atau stres.

Kondisi seperti radikulopati serviks (saraf terjepit di leher) dan sakit kepala servikogenik (sakit kepala yang berasal dari leher) juga dapat memicu nyeri yang menjalar dari leher. Selain itu, kompresi saraf di leher oleh faktor lain, misalnya neuralgia oksipital, cedera cakram leher, atau tumor di area serviks, bisa menyebabkan nyeri leher menjalar.

Salah satu penyebab penting yang perlu diperhatikan adalah Thoracic Outlet Syndrome (TOS) tipe 1, yaitu kondisi jepitan saraf di daerah leher-bahu atas yang bisa menimbulkan nyeri leher menjalar ke lengan.

Secara ringkas, berikut penyebab utama nyeri leher menjalar:

  • Gangguan pada tulang leher (pengeroposan/spondylosis, cedera cakram) yang mengiritasi saraf saraf servikal dan menyebabkan nyeri menjalar ke bahu/lengan.
  • Ketegangan otot dan postur buruk, terutama otot-otot leher, bahu, dan punggung atas, akibat duduk lama atau posisi kerja salah, yang memicu nyeri tumpul di leher dan bahu.
  • Radikulopati serviks, yaitu ketika saraf terjepit di leher, menimbulkan nyeri tajam dan kebas sesuai dermatom saraf yang terkena.
  • Cervicogenic headache (sakit kepala servikogenik), meski lebih ke kepala, kadang diiringi tegangan leher yang menjalar.
  • Neuralgia oksipital, nyeri tajam di belakang kepala yang kadang terasa ke leher.
  • Thoracic Outlet Syndrome (TOS) tipe 1, kompresi saraf/buluh di jalur leher-bahu, sering akibat ketatnya otot skalenus, tulang rusuk serviks, atau struktur lain di terowongan leher. Kondisi ini bisa memicu nyeri leher menjalar ke bahu-lengan.

Apa Bedanya Nyeri Leher Menjalar Karena TOS Tipe 1 dan Penyebab Lainnya ?

Gejala nyeri leher menjalar berbeda bergantung penyebabnya. Pada TOS tipe 1 (umumnya neurogenik), sakit sering berawal di leher atau area pangkal leher (scalene), lalu menyebar ke bahu dan lengan. Nyeri sering disertai rasa kesemutan, kebas, atau kelemahan pada lengan. Biasanya tidak disertai mual/muntah seperti migrain. Keluhan sering memburuk saat tangan diangkat di atas kepala atau saat melakukan gerakan bahu tertentu, dan dapat membaik dengan memposisikan bahu ke bawah dan belakang. Gejalanya bisa muncul berkelompok dengan gangguan sirkulasi ringan (misalnya tangan terasa dingin), khususnya jika juga kompresi pembuluh darah. Seringkali penderita TOS tipe 1 mengalami nyeri leher menjalar akibat postur tubuh membungkuk, otot bahu kontraksi berlebih, atau olahraga yang melibatkan gerakan terangkat.

Sebaliknya, nyeri leher menjalar dari penyebab lain menunjukkan ciri berbeda. Misalnya pada radikulopati serviks (saraf terjepit) nyerinya sering tajam menusuk dan terlokalisasi pada satu sisi, mengikuti jalur saraf (dermatom), kadang disertai refleks otot menurun. Gejalanya lebih banyak dipicu gerakan leher tertentu (misal tes Spurling positif). Pada ketegangan otot, rasa sakit cenderung tumpul di kedua sisi leher/bahu, tanpa kebas ke tangan. Cervicogenic headache lebih mengarah ke sakit kepala dengan asal titik di leher, bukan khas ke lengan. Neuralgia oksipital menimbulkan nyeri kepala bagian belakang, tidak sampai ke bahu-lengan.

Dengan kata lain, TOS tipe 1 khas dengan kombinasi nyeri leher-bahu-lengan, sering melibatkan sensasi saraf, dan berhubungan dengan posisi bahu/leher tertentu, sedangkan penyebab lain biasanya memiliki pola radiasi atau pemicu yang berbeda (misalnya hernia diskus: rasa sakit semakin parah saat menekuk leher).

Pemeriksaan oleh dokter spesialis kedokteran fisik dan rehabilitasi (Sp.K.F.R.) dapat membantu membedakan, misalnya melalui tes posisi bahu (Adson, Roos) yang khas untuk TOS.

Bagaimana Pencegahan Nyeri Leher Menjalar karena TOS Tipe 1?

Pencegahan nyeri leher menjalar akibat TOS tipe 1 terutama berkaitan dengan menjaga postur dan kebiasaan sehari-hari. Langkah yang disarankan antara lain:

  • Perbaiki postur tubuh: Duduk atau berdiri tegak, bahu rileks ke bawah dan belakang. Hindari membungkuk terlalu lama. Saat bekerja dengan komputer, atur layar setinggi pandangan mata dan kursi dengan sandaran punggung yang baik.
  • Relaksasi otot leher-bahu: Lakukan peregangan ringan otot leher dan bahu secara teratur (misalnya memutar kepala perlahan, mengangkat dan menurunkan bahu). Setiap 30–60 menit beraktivitas di depan komputer, sisihkan waktu singkat untuk istirahat dan bergerak ringan.
  • Pencahayaan dan alat bantu kerja ergonomis: Pastikan meja dan alat kerja diatur sedemikian rupa sehingga tidak menambah ketegangan bahu-leher. Misalnya, gunakan sandaran tangan atau bantalan jika perlu untuk mengurangi beban pada bahu.
  • Kurangi gerakan overhead berulang: Hindari mengangkat lengan berulang kali di atas kepala secara terus menerus. Jika pekerjaan atau hobi memerlukan gerakan tersebut (misal angkat beban di gym, melempar bola), sisipkan istirahat cukup dan peregangan.
  • Tidur dengan posisi yang baik: Gunakan bantal yang menopang leher secara netral, hindari posisi tidur terlentang dengan lengan diangkat ke atas kepala. Posisi tidur miring dengan bantal di antara lengan dapat membantu menjaga bahu tidak membungkuk.
  • Perkuat otot penyangga bahu: Lakukan latihan penguatan otot punggung atas dan otot sekitar scapula (seperti retraksi bahu, penguatan serratus anterior) sesuai anjuran fisiatris. Otot yang kuat dapat membantu menarik bahu ke bawah dan mencegah kompresi.
  • Manajemen stres: Karena stres dapat memperburuk ketegangan otot leher-bahu, teknik relaksasi seperti pernapasan dalam, yoga ringan, atau latihan aerobik rutin dapat membantu menurunkan risiko kambuhnya nyeri.

Dengan kebiasaan pencegahan di atas, sebagian besar kasus nyeri leher menjalar akibat TOS tipe 1 dapat diminimalkan. Penting juga rutin kontrol ke dokter spesialis Sp.K.F.R. untuk pemeriksaan lanjut jika gejala sering muncul, agar langkah pencegahan dan rehabilitasi dapat disesuaikan lebih spesifik.

Rehabilitasi dan Intervensi TOS Tipe 1

Penanganan Thoracic Outlet Syndrome tipe 1 berfokus pada pendekatan konservatif terlebih dahulu, terutama program rehabilitasi yang diarahkan oleh dokter spesialis kedokteran fisik dan rehabilitasi (Sp.K.F.R.). Rehabilitasi ini umumnya meliputi beberapa fase latihan dan intervensi berikut:

  • Fase pereda nyeri dan relaksasi otot: Pada tahap awal, fokus pada mengurangi nyeri leher dan ketegangan otot. Hal ini dapat dilakukan dengan kompres hangat di leher-bahu, serta teknik release otot pada skalenus dan otot bahu lainnya (oleh terapis rehabilitasi). Latihan peregangan scalene dan pectoralis minor secara lembut dilakukan beberapa kali sehari untuk mengurangi ketatnya otot di sekitar terowongan bahu. Pada fase ini penting juga memperbaiki kebiasaan duduk tidur yang memicu gejala.
  • Fase koreksi postur dan penguatan: Setelah nyeri mereda, program latihan dilanjutkan dengan memperbaiki postur scapula (tulang belikat) dan memperkuat otot-otot penyangga leher/bahu. Latihan penarikan bahu ke belakang (scapular retraction), penguatan otot trapezius bagian tengah-bawah, serta stabilisasi otot sekitar tulang belikat (seperti serratus anterior) dilakukan untuk menjaga posisi bahu tidak jatuh ke depan. Hal ini membantu melebarkan jalur neuromuskular di toraks atas. Selain itu, pasien diajarkan latihan gliding saraf (nerve gliding exercises) untuk leher dan lengan sehingga mengurangi cakupan saraf plexus brachialis pada saat bergerak.
  • Latihan fungsional lanjut: Pada fase rehabilitasi berikutnya, latihan melibatkan gerakan bahu-leher yang lebih kompleks, dengan tahanan ringan (misalnya resistance band) untuk menguatkan otot scapula saat lengan diangkat. Latihan ini dilakukan secara bertahap meningkatkan rentang gerak dan kekuatan hingga pasien dapat mengangkat lengan ke atas kepala tanpa nyeri. Terapi klinis yang terstruktur menjelaskan tahapan latihan ini sangat penting agar nyeri leher menjalar tidak kambuh.
  • Intervensi pereda nyeri tambahan: Jika nyeri leher menjalar sangat mengganggu dan tidak segera mereda, dokter Sp.K.F.R. dapat meresepkan obat antiinflamasi non-steroid (OAINS) atau muscle relaxant untuk meredakan gejala. Dalam beberapa kasus, tindakan blok saraf skalenus (injeksi obat bius lokal dengan atau tanpa steroid ke otot scalene) dapat dilakukan untuk memecahkan lingkaran nyeri otot tegang dan mengurangi iritasi saraf secara temporer. Penggunaan botulinum toxin pada otot skalenus telah dicoba pada penelitian tertentu untuk mengurangi spasme, tetapi penggunaannya masih bersifat eksperimental.
  • Intervensi pembedahan (jika perlu): Kebanyakan kasus TOS tipe 1 dapat diatasi tanpa operasi. Namun, jika setelah rehabilitasi selama beberapa bulan gejala berat tidak membaik, atau ditemukan penyebab struktural seperti tulang rusuk serviks ekstra (cervical rib) yang jelas menekan saraf/pembuluh, dokter mungkin merekomendasikan operasi. Tindakan bedah seperti pengangkatan tulang rusuk pertama yang menonjol (first rib resection) atau pelepasan otot skalenus digunakan untuk memperluas terowongan bahu. Operasi ini biasanya terakhir dicoba setelah berbagai intervensi konservatif gagal.

Secara keseluruhan, tujuan rehabilitasi dan intervensi TOS tipe 1 adalah menghilangkan faktor tekanan pada saraf/buluh, memperkuat otot pendukung, dan mengembalikan fungsi normal tanpa nyeri. Pasien yang menjalani program rehabilitasi komprehensif oleh dokter spesialis Sp.K.F.R. biasanya melaporkan perbaikan signifikan.

Pencegahan berkelanjutan (hindari faktor pemicu) dan latihan rumahan lanjutan sering dianjurkan agar gejala nyeri leher menjalar tidak kembali kambuh.

 

 

 

 

 

 

 

 


Buat Kunjungan

Anda dapat menerima layanan dengan mengunjungi salah satu cabang kami.

Klinik Flex-Free Jakarta Utara

Ruko Italian Walk J No. 19, Dekat Pintu Masuk Gate C, Mall of Indonesia, Jl. Raya Boulevard Barat, Kelapa Gading, Jakarta Utara

Lihat di Peta Kirim Pesan WhatsApp Telp: +62214514421

Klinik Flex-Free Bandung

Jl. Terusan Pasir Koja No 153/67, Kelurahan Panjunan, Kecamatan Astanaanyar, Kota Bandung, Jawa Barat

Lihat di Peta Kirim Pesan WhatsApp Telp: +622220580806

Klinik Flex-Free Jakarta Selatan

The Bellezza Shopping Arcade, Lantai dasar Unit SA58-60, (Ex Food Hall, Lobby Timur), Jalan Arteri Permata Hijau No.34, Kebayoran Lama, Jakarta Selatan, DKI Jakarta

Lihat di Peta Kirim Pesan WhatsApp Telp: +622125675561
WhatsApp ×

Jika ada pertanyaan, silahkan menghubungi kami melalui