IND | EN

Selasa, 19 Juli 2016 | Penulis : Flex Free

SINDROM PIRIFORMIS

Definisi Sindrom Piriformis

Sindrom piriformis adalah kondisi dimana otot piriformis yang terletak di area bokong mengalami ketegangan dan kekakuan, sehingga menjepit saraf sciatic yang berjalan di antara otot-otot piriformis tersebut dan timbul gejala seperti linu panggul (sciatic) akibat jepitan saraf sciatic di daerah bokong (pantat).

definisi sindrom piriformis

Piriformis adalah otot kecil yang terletak jauh di dalam bokong (di belakang otot gluteus maximus). Dimulai pada tulang punggung bagian bawah dan terhubung ke permukaan atas tulang paha (femur). Berjalan secara diagonal, dengan saraf sciatic yang berjalan secara vertikal langsung di bawahnya (meskipun pada beberapa orang saraf dapat berjalan melalui otot).

anatomi kelainan sindrom piriformis

Fungsi otot piriformis untuk membantu pinggul berputar dan memutar tungkai bawah dan kaki ke luar.

Penyebab Sindrom Piriformis

Penyebab pasti sindrom piriformis tidak diketahui. Dugaan penyebab sindrom piriformis antara lain:

- Kejang otot piriformis, baik karena iritasi pada otot piriformis itu sendiri, atau iritasi dari struktur terdekat seperti sendi sakroiliaka atau pinggul
- Ketegangan berlebihan otot piriformis, sebagai refleks dalam menanggapi cedera atau kejang
- Pembengkakan pada otot piriformis, karena cedera atau kejang
- Perdarahan di daerah otot piriformis.

Salah satu atau kombinasi dari masalah di atas dapat mempengaruhi otot piriformis, menyebabkan rasa sakit bokong dan dapat mempengaruhi saraf sciatic yang berdekatan dan menyebabkan nyeri, kesemutan, atau mati rasa di bagian belakang paha, betis, atau kaki (gejala hampir sama dengan linu panggul atau sciatica akibat jepitan saraf sciatic di area tulang belakang).

Gejala Sindrom Piriformis

Gejala yang paling umum, pasien menjelaskan nyeri bokong akut dan sakit linu panggul seperti di bagian belakang paha, betis dan kaki. Gejala ini hampir sama dengan gejala linu panggul (sciatica) yang disebabkan jepitan saraf di vertebra lumbal dan sakral karena berbagai penyebab.

Gejala khas sindrom piriformis termasuk:

- Rasa sakit bokong dan nyeri tekan bokong. Tanda ini khas untuk sindrom piriformis.
- Rasa sakit dirasakan hingga bagian belakang paha, betis dan kaki (seperti linu panggul)
- Nyeri akan timbul dan bertambah saat berjalan menaiki tangga atau condong, setelah duduk lama, berjalan atau berlari dan mungkin merasa lebih baik setelah berbaring

- Rentang gerak sendi pinggul berkurang, dan nyeri akan dipicu oleh gerakan-gerakan pinggul, paha dan tungkai bawah yang memaksa otot piriformis berkontraksi, seperti menekuk paha ke depan dengan kaki lurus, memutar pinggul

- Pada sindrom piriformis tidak ada defisit neurologis yang terjadi, hal ini berbeda dengan nyeri sciatica yang disebabkan karena jepitan akar saraf sciatic di vertebra lumbal dan sakral.

Diagnosis Sindrom Piriformis

Tidak ada pemeriksaan khusus untuk menegakkan diagnosis sindrom piriformis. Diagnosis ditegakan berdasarkan gejala, riwayat medis, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan penunjang yang memang dibutuhkan untuk menyingkirkan kemungkinan penyebab yang lain.

Pemeriksaan fisik mencakup pemeriksaan pinggul dan kaki untuk mencetuskan nyeri, karena biasanya gerakan pinggul akan memicu timbulnya nyeri.

Riwayat kesehatan tentang gejala, kapan mulai timbul, bagaimana timbulnya, bertahap atau setelah cedera, posisi atau aktivitas apa yang memperburuk atau memperbaiki gejala, perawatan yang telah dilakukan dan riwayat penyakit keluarga.

Tes diagnostik lebih ditujukan untuk menyingkirkan kemungkinan penyebab gejala sciatica yang lain, yaitu jepitan saraf sciatica di area tulang belakang (pada vertebra lumbal 3-4-5 atau vertebra sakral 1) akibat HNP, penyakit diskus degenartif, spondylolisthesis, dll.

Suntikan anestesi dengan atau tanpa steroid kadang dibutuhkan untuk membantu mengkonfirmasi apakah otot piriformis merupakan sumber gejala.

Penanganan Sindrom Piriformis

Seperti halnya linu panggul atau sciatica yang diakibatkan jepitan saraf di area tulang belakang, terapi fisik dan latihan peregangan otot piriformis menjadi fokus utama dan sangat dibutuhkan. Namun tahapan pelatihan bergantung pada tingkat keparahan nyeri yang dialami.

Umumnya hanya dibutuhkan penanganan konservatif (non bedah) untuk meringankan gejala neurologis yang disebabkan oleh saraf sciatic yang terjepit oleh otot piriformis dan mencegah ketegangan berulang dari otot piriformis.

Ada berbagai pilihan terapi pada perawatan konservatif, yaitu:

1. Penggunaan kompres panas atau dingin.

Kompres panas atau dingin di area bokong yang sakit, dapat membantu meredakan gejala nyeri di awal. Penggunaan kompres selama 20 menit diulang seperlunya setiap 2–4 jam cukup membantu. Gabungan antara kompres dingin dengan pijatan lembut di area otot piriformis (bokong) yang meradang juga sangat dianjurkan. Namun perlu hati-hati dalam penggunaan kompres panas atau dingin, agar tidak melukai kulit dan pijatan harus dilakukan secara lembut untuk menghindari peradangan otot piriformsi lebih lanjut. Konsultasikan lebih lanjut tentang metode ini kepada dokter.

2. Obat pereda nyeri nyeri.

Obat pereda nyeri yang dijual bebas kadang efektif untuk gejala yang ringan, sementara untuk kasus yang berat, dibutuhkan obat pereda nyeri dan relaksan otot dengan resep dokter, yang penggunaannya harus berhati-hati mengingat efek sampingnya.

3. Suntikan pereda nyeri

Untuk nyeri panggul yang parah dari sindrom piriformis, suntikan mungkin menjadi bagian dari pengobatan. Anestesi lokal dan kortikosteroid kadang disuntikkan langsung ke dalam otot piriformis untuk membantu otot menjadi rileks dan mengurangi kejang dan nyeri. Tujuan dari suntikan biasanya untuk mengurangi nyeri akut dan mempersiapkan penderita untuk melakukan latihan fisik.

4. Latihan fisik.

Sejumlah latihan peregangan untuk piriformis, paha belakang dan ekstensor panggul dapat membantu mengurangi gejala nyeri sepanjang saraf sciatic dan membantu pasien untuk bergerak kembali. Dokter yang kompeten akan mengajarkan beberapa latihan ini.

latihan fisik sindrom piriformis

5. Terapi Fisik.

Kombinasi antara latihan fisik dan terapi fisik, akan sangat membantu mengurangi gejala nyeri yang timbul. Penggunaan beberapa alat seperti ultrasound, laser, TENS, infra merah sering dibutuhkan, karena berguna untuk mengurangi atau meredakan gejala nyeri sciatic, mengurangi peradangan yang terjadi, meningkatkan suplai darah dan nutrisi ke area tersebut dan untuk memperbaiki jaringan yang rusak.

Penerapan stimulasi listrik untuk area bokong dengan unit transcutaneous electrical nerve stimulation (TENS) dapat membantu untuk memblokir rasa sakit dan mengurangi kejang otot yang berhubungan dengan sindrom piriformis.
 

Share :

Sosial Media Flex Free Clinic

Ikuti perkembangan informasi terbaru melalui sosial media kami

Copyright © 2014 - www.flexfreeclinic.com