IND | EN

Selasa, 17 November 2015 | Penulis : Flex Free Clinic

ROTATOR CUFF TEAR

Definisi Rotator Cuff Tear

Nyeri pada bahu yang disebabkan karena robeknya salah satu atau beberapa tendon otot bahu yang membentuk manset rotator atau rotator cuff.

Sendi bahu dibentuk oleh 3 macam tulang yaitu tulang lengan atas (humerus), tulang belikat (skapula) dan tulang selangka (klavikula). Bagian atas (kepala) tulang lengan atas akan masuk ke dalam suatu cekungan (soket) yang dibentuk oleh tulang belikat dan diikat oleh jaringan ikat yang kuat yang disebut sebagai kapsul bahu yang berfungsi menstabilkan posisi lengan atas agar tetap berada dalam cekungannya. 

Rotator cuff atau manset rotator adalah tempat bergabungnya 4 macam tendon otot bahu yang membentuk penutup bagian atas tulang lengan atas (kepala humerus). Rotator cuff menempel pada tulang lengan atas (humerus) dan pada tulang belikat (skapula), dan berperan untuk membantu mengangkat dan memutar lengan kita dan menstabilkan sendi bahu. Otot-otot rotator cuff (otot supraspinatus, otot infraspinatus, otot teres minor dan otot subskapularis) adalah stabilisator dinamis dan penggerak sendi bahu dan berperan menyesuaikan posisi kepala humerus dan tulang belikat selama bahu bergerak. Selain itu terdapat kantung pelumas yang disebut bursa yang berada di antara manset rotator dan tulang di atas bahu (akromion). Bursa memungkinkan tendon rotator cuff meluncur dengan bebas ketika lengan digerakkan ke segala arah.

rotator cuff tear
Tendon-tendon otot bahu yang membentuk rotator cuff
Sumber gambar: www.morphopedics.wikidot.com dan www.sportsinjuryclinic.net


Ketika salah satu atau lebih tendon rotator cuff robek, tendon tidak lagi sepenuhnya menempel pada tulang humerus bagian atas (caput humerus), dan bursa juga akan mengalami peradangan. Hal ini akan melemahkan kekuatan bahu dan menimbulkan rasa nyeri, sehingga akan mengganggu aktifitas sehari-hari yang menggunakan sendi bahu, seperti menyisir rambut, berpakaian, mengambil atau menjangkau suatu benda. 

Robeknya rotator cuff atau manset rotator merupakan penyebab umum nyeri bahu pada orang dewasa. Yang paling sering mengalami robekan adalah tendon dari otot supraspinatus.

 robeknya rotator cuff
Robekan yang terjadi pada tendon otot supraspinatus dan infraspinatus
Sumber gambar: www.shoulderdoc.co.uk

Penyebab Rotator Cuff Tear

Secara garis besar, penyebab terjadinya robekan dari tendon rotator cuff adalah cedera dan proses degenerasi.

Cedera ringan yang berlangsung lama (kronis) pada rotator cuff paling sering terjadi pada orang yang berulang kali melakukan gerakan overhead (gerakan tangan di atas kepala) dalam pekerjaan atau aktivitas olahraga mereka. Pemain baseball, tenis, dayung, angkat besi merupakan olahraga dengan risiko tinggi demikian pula dengan aktivitas pekerjaan rutin seperti pelukis dan tukang kayu.

Gerakan-gerakan overhead ini dapat menyebabkan puncak dari tulang lengan atas bergesekan dengan sebagian sendi bahu dan tendonnya, sehingga menyobek serat-seratnya. Cedera ringan dapat menyebabkan reaksi radang lokal atau tendinitis. Kondisi ini biasanya akan sembuh dengan sendirinya bila diistirahatkan dari gerakan-gerakan yang memicu gesekan tersebut. Namun pada orang tua dengan kondisi tendon yang lemah atau bila dipaksakan tetap melakukan aktivitas terus menerus, dapat terjadi robekan kecil yang prosesnya dapat terus berlanjut menjadi robekan besar.

Cedera berat akibat trauma langsung yang mengenai sendi bahu, seperti jatuh dengan posisi bahu tertahan, mengangkat beban yang sangat berat atau kecelakaan, juga dapat menyebabkan terjadinya robekan pada tendon rotator cuff secara tiba-tiba. Robekan dapat terjadi pada sebagian tendon atau keseluruhan tendon, sehingga benar-benar terlepas.


 penyebab rotator cuff tear
Tendon pembentuk rotator cuff yang robek sebagian dan seluruhnya
Sumber gambar: www.shoulderdoc.co.uk


Proses degenerasi berkaitan dengan beberapa perubahan yang terjadi akibat proses penuaan. Adanya kelemahan jaringan dan kurang lancarnya suplai darah karena penyakit penyumbatan pembuluh darah (atherosklerosis), dapat menghambat proses penyembuhan pada tendon yang mengalami peradangan dan kerusakan akibat pemakaian.  Selain itu, proses penuaan memicu terjadinya osteoatritis (kerusakan pada tulang rawan sendi) dan pembentukan taji tulang (spur). Spur dapat menimbulkan perlukaan pada tendon pada saat lengan digerakkan dan memperparah kerusakan yang telah ada.

 penyebab robeknya rotator cuff
Taji tulang (bone spur) pada tulang selangka dapat menyebabkan perlukaan tendon 
Sumber gambar: www.beantownphysio.com

Gejala Rotator Cuff Tear

Gejala yang paling umum terjadi adalah:
•    Nyeri. Nyeri dirasakan mulai dari atas bahu dan lengan, dan pada beberapa penderita nyeri juga dirasakan turun ke siku. Keluhan nyeri terjadi secara bertahap, sejalan dengan proses peradangan awal yang terjadi sebelum tendon mengalami robekan.  Pada awalnya rasa nyeri dirasakan sangat ringan, dan hanya timbul saat kita mengangkat lengan atau menggerakkan lengan ke arah tertentu. Seiring waktu, rasa nyeri akan bertambah hebat, dan dapat timbul pada saat istirahat malam hari terutama jika berbaring di bahu yang terkena  dan tidak mereda dengan pemberian obat-obatan pereda nyeri sederhana.

•    Adanya kelemahan pada lengan. Kelemahan menyebabkan penderita kesulitan menggerakkan bahu terutama saat mengangkat dan memutar lengan atau melakukan gerakan-gerakan tertentu ketika melakukan aktifitas harian seperti menyisir, berpakaian, membawa barang, dll. Hal ini juga mengakibatkan rentang gerak sendi menjadi sangat terbatas.

•    Krepitus atau bunyi/sensasi berderak ketika bahu digerakkan pada posisi tertentu.

Diagnosis Rotator Cuff Tear

Diagnosis didasarkan dari gejala yang ada dan hasil pemeriksaan fisik dengan menguji kisaran gerak sendi bahu yang dapat dilakukan di mana nyeri mulai timbul dan menguji kekuatan sendi bahu. Untuk mengukur rentang gerak bahu, dokter akan meminta penderita untuk mennggerakkan lengan dalam beberapa arah yang berbeda. Selain itu akan dilakukan beberapa pemeriksaan untuk memastikan bahwa kelainan yang terjadi bukan karena jepitan saraf di daerah leher ataupun karena penyebab lain.

Untuk membedakan kondisi peradangan atau robekan yang terjadi pada tendon di rotator cuff, dokter kadang melakukan tes suntikan bius lokal.  Pada penderita yang mengalami tendinitis (peradangan pada tendon), suntikan anestesi akan mengurangi rasa sakit dan kekuatan otot biasanya normal, namun bila terjadi robekan pada tendon, setelah anestesi, nyeri berkurang tapi otot tetap lemah (kekuatan berkurang).

Pemeriksaan penunjang seperti rontgen, MRI (Magnetic Resonance Imaging) atau ultrasonografi kadang diperlukan untuk memastikan diagnosis ataupun untuk mengesampingkan penyebab lain dari keluhan yang timbul.

Pemeriksaan rontgen tidak digunakan untuk melihat kelainan pada jaringan lunak, namun dapat digunakan untuk  menunjukkan adanya taji (spur) pada tulang-tulang bahu.

Pemeriksaan MRI (Magnetic Resonance Imaging) atau USG (ultrasonografi), dapat lebih menunjukkan kelainan pada jaringan lunak seperti tendon dan otot-otot rotator cuff.

 diagnosa rotator cuff tear
Robekan tendon rotator cuff pada gambaran MRI
Sumber gambar: www. www.colinmcnulty.com

Penanganan Rotator Cuff Tear

Tujuan dari pengobatan adalah untuk mengurangi rasa nyeri dan mengembalikan fungsi. Pengobatan dini penting untuk mencegah gejala semakin memburuk dan mencegah proses kerusakan berlanjut, karena robekan pada rotator cuff dapat bertambah berat dari waktu ke waktu terlebih bila penderita tetap memaksakan diri melakukan gerakan berulang dan berlebihan pada sendi yang sakit.

Ada beberapa pilihan pengobatan dan akan berbeda-beda untuk setiap orang. Dalam merencanakan perawatan terhadap robekan/kerusakan rotator cuff, dokter akan mempertimbangkan usia, tingkat aktivitas dan kesehatan umum penderita serta tingkat keparahan robekan yang terjadi.
Ada dua pilihan dasar penanganan yaitu konservatif atau non bedah dan operatif (pembedahan). Masing-masing metode pengobatan memiliki keuntungan dan kerugian.
Keuntungan dari penanganan non operasi adalah menghindari risiko utama efek samping atau komplikasi dari tindakan operasi seperti infeksi, komplikasi anestesi, kekakuan permanen yang dapat timbul setelah operasi dan perlunya waktu pemulihan yang cukup panjang. 
Sementara kelemahan dari penanganan non operasi yaitu tidak adanya perbaikan dalam kekuatan otot, kerusakan/robekan tendon dapat meningkat dari waktu ke waktu dan harus ada pembatasan aktivitas yang melibatkan gerakan bahu.
Sekitar 50% penderita akan membaik dengan metode perawatan konservatif, nyeri berkurang dan fungsi bahu meningkat, namun hal ini juga bergantung kepada tingkat keparahan robekan yang terjadi. Beberapa hal yang dilakukan pada pengobatan konservatif (tanpa bedah) yaitu:

1.    Penanganan di rumah
•    Area bahu yang nyeri harus diistirahatkan dan hindari semua aktivitas gerakan bahu yang memicu timbulnya rasa nyeri dan memperparah kerusakan/robekan (gerakan overhead)
•    Modifikasi aktivitas, dengan menerapkan beberapa aturan umum untuk mengurangi ketegangan bahu dengan melakukan kegiatan dengan cara-cara tertentu seperti mengangkat objek atau benda harus dekat dengan tubuh, hanya diperbolehkan mengangkat beban ringan dengan batas di bawah bahu, menjaga postur tubuh yang baik dalam bekerja dan aktivitas harian.
•    Kadang diperlukan arm sling untuk mengistirahatkan dan melindungi bahu sementara dari gerakan-gerakan yang mungkin memperparah robekan. Namun penggunaan jangka panjang tidak disarankan, karena dapat menyebabkan bahu beku (frozen shoulder)
•    Pemberian kompres dianjurkan untuk mengurangi peradangan, pembengkakan dan nyeri yang terjadi terutama pada proses akut. Kompres dapat diberikan selama 15-20 menit setiap 4-6 jam sekali.
•    Kompres panas biasanya direkomendasikan untuk membantu mempersiapkan area yang mengalami peradangan sebelum melakukan latihan fisik rentang gerak sendi bahu. 


 penggunaan slink arm untuk pengobatan rotator cuff tear
Penggunaan arm sling untuk mengistirahatkan bahu sementara
Sumber gambar: www.thaimakeover.com

2.  Obat-obatan
•    Obat Antiinflamasi Non Steroid seperti Ibuprofen atau Naproxen sering digunakan untuk mengurangi rasa sakit dan peradangan. Dosis obat yang diperlukan kadang lebih tinggi dari dosis untuk mengurangi nyeri dan mengingat efek sampingnya, diperlukan dosis yang direkomendasikan oleh dokter.

•    Penggunaan obat-obatan untuk mengurangi proses inflamasi seperti Kortikosteroids atau campuran kortokosteroid dan anestesi lokal sering dilakukan. Kortikosteroid sering diberikan dalam bentuk injeksi pada area nyeri. Injeksi Kortikosteroid umumnya diberikan pada proses akut dengan keluhan nyeri yang hebat, meskipun tidak semua orang akan mendapatkan efek yang sama. Injeksi harus dilakukan oleh dokter yang telah terlatih untuk melakukan tindakan ini. 

terapi injekst untuk pengobatan rotator cuff tear

Terapi injeksi untuk meredakan nyeri dan peradangan
Sumber gambar: www.rotatorcuffinjurytips.net

3.   Terapi fisik (fisioterapi) dan latihan fisik 
•    Terapi fisik (Fisioterapi) merupakan perpaduan terapi menggunakan alat-alat ultrasound, laser dan pelatihan fisik.
Ultrasound adalah metode terapi dengan gelombang suara frekuensi tinggi pada daerah yang sakit. Gelombang suara ini akan diubah menjadi panas pada jaringan bagian dalam, sehingga melebarkan pembuluh darah dan memberikan suplai oksigen yang lebih banyak pada daerah yang cedera. Terapi ini seringkali diberikan bersama dengan latihan fisik dan dilakukan oleh dokter ahli.
Terapi ini umumnya dilakukan selain untuk memperbaiki kondisi jaringan yang meradang, juga untuk mempersiapkan bahu menjalani latihan fisik yang berfungsi untuk menjaga rentang gerak bahu dan melatih kekuatan otot-otot bahu.      
•    Latihan fisik berupa peregangan dan latihan rentang gerak sendi bahu direkomendasikan di awal periode pemulihan untuk membantu menjaga mobilitas sendi dan fleksibilitas dari otot-otot dan tendon di bahu dan mencegah terjadinya bahu beku atau frozen shoulder. Beberapa variasi latihan peregangan akan diajarkan oleh dokter dengan semakin meningkatkan intensitas latihan dan rentang gerak sendi hingga diharapkan dapat benar-benar pulih.

•    Pemberian tapping akan membantu meredakan ketegangan dan menjaga posisi bahu tetap normal.

        pemberian tappig unutk pengobatan rotator cuff tear
Pemberian tapping untuk mengurangi ketegangan
Sumber gambar: www.ortho.ucla.edu

Terapi pembedahan mungkin dianjurkan jika keluhan tidak membaik setelah semua terapi konservatif dilakukan (6-8 minggu) atau apabila nyeri terjadi secara terus menerus, kekuatan otot sangat menurun, adanya robekan menyeluruh dari tendon, penderita usia muda yang membutuhkan penggunaan bahu yang aktif, atau adanya pembentukan tulang baru (spur) yang menyebabkan dan memperburuk kerusakan dan mengganggu proses rehabilitasi. 
 

teapi pembedahan untuk pengobatan rotator cuff tear
Sumber gambar: www.thruehealth.co.uk

Pencegahan Rotator Cuff Tear

Perubahan jangka panjang yang terjadi di dalam dan sekitar sendi bahu karena pemakaian sehari-hari tidak dapat benar-benar dicegah. Namun kejadian ini dapat diperkecil dengan beberapa cara sebagai berikut:
•    Melakukan latihan fisik setiap hari untuk mempertahankan kekuatan dan fleksibilitas gerakan sendi bahu.
•    Menjaga postur tubuh yang baik setiap saat. 
•    Hindari mengangkat benda yang terlalu berat terutama di atas kepala
•    Hindari melakukan gerakan-gerakan mengangkat lengan secara berulang untuk waktu yang lama.
•    Lakukan latihan peregangan dan pemanasan sebelum melakukan tugas-tugas yang melibatkan sendi bahu
•    Lakukan istirahat bila telah timbul rasa nyeri akibat aktivitas yang kita lakukan

 

 

Referensi:
•    Rotator Cuff Injury. Mayo Clinic. 2014.
•    Rotator Cuff Injury. E-medicine Health.2014
•    Rotator Cuff Tears. WebMd.2014
•    Rotator Cuff Tears. American Academy of  Orthopedics Surgeon. OrthoInfo.2014.

Share :

Sosial Media Flex Free Clinic

Ikuti perkembangan informasi terbaru melalui sosial media kami

Copyright © 2014 - www.flexfreeclinic.com