Rabu, 21 Desember 2016 | Penulis : Flex Free

Kompres Hangat atau Dingin pada Cedera Otot

Sumber gambar: everydayhealth.com

Budaya menggunakan kompres pada cedera otot sudah dilakukan sejak lama. Selama berabad-abad, panas digunakan sebagai cara yang sederhana tetapi efektif untuk menangani nyeri atau kekakuan sendi. Panas yang menembus hingga ke bagian dalam tidak hanya meredakan nyeri tetapi juga meningkatkan proses penyembuhan. Sumber lain menyebutkan, sebaiknya kompres yang digunakan pada cedera otot adalah kompres dingin. Jadi, mana pilihan yang tepat untuk cedera otot yang Anda alami?

Penggunaan Terapi Panas dan Dingin untuk Mengurangi Nyeri

Baik terapi panas maupun dingin dapat mengurangi nyeri. Akan tetapi, pilihan tersebut dapat membingungkan mana yang sebaiknya dipilih. Aturan dasar berikut ini dapat membantu:

Gunakan terapi hangat  untuk nyeri kronis.

Gunakan terapi dingin untuk nyeri akut atau cedera, bengkak/peradangan baru.

Akan tetapi, jenis cedera harus tetap diperhatikan. Jenis-jenis cedera tertentu memerlukan penanganan berbeda agar dapat sembuh dengan baik. Terapi panas dan bukan merupakan pengganti evaluasi medis dan penanganannya.  

Sumber gambar: coopermedical.ca

Termoterapi untuk Meredakan Nyeri

Terapi panas juga disebut dengan termoterapi.

Panas memiliki efek relaksasi. Karena alasan ini, otot yang kelelahan akan merespons panas. Panas dapat menstimulasi aliran darah, merelaksasi otot yang spasme dan meredakan nyeri otot. Terapi panas juga menenangkan secara psikologis, sehingga karena alasan ini, terapi panas memiliki dampak analgesik.

Bagaimana Terapi Panas Membantu Anda?

Asam laktat terakumulasi ketika otot berada di bawah tekanan dan kekurangan oksigen. Ketika terjadi penurunan aliran darah ke area yang mengalami cedera, asam laktat menumpuk. Penumpukan ini menyebabkan nyeri otot. Terapi panas dapat membantu mengembalikan aliran darah dan mempercepat pembuangan asam laktat dari otot.

Sumber gambar: researchgate.net

Terapi panas membantu dengan cara:

  • Meningkatkan elastisitas jaringan, panas menurunkan tegangan otot dan membantu merelaksasi “ikatan” otot yang nyeri.
  • Nyeri secara cepat berkurang karena sedasi dan meredanya ujung saraf yang teriritasi.
  • Efek panas di bagian dalam meningkatkan aliran darah ke area yang cedera, membawa lebih banyak nutrisi ke area yang cedera sambil mengeluarkan sisa-sisa jaringan yang cedera. Hal ini dapat membantu mempercepat penyembuhan.
  • Panas di bagian dalam juga mempercepat penyembuhan dengan menstimulasi kecepatan metabolisme. Dengan kata lain, lebih banyak energi tersedia untuk memperbaiki cedera secara lebih cepat.

Kapan Digunakan Terapi Panas?

Terapi panas TIDAK BOLEH digunakan pada 48 jam pertama setelah cedera.

Terapi panas biasanya lebih efektif dibandingkan terapi dingin ketika menangani nyeri otot kronis atau nyeri sendi yang disebabkan oleh artritis. Nyeri kronis adalah nyeri yang menetap atau berulang.

Bila Anda sedang dalam kondisi cedera, gunakan kompres hangat sebelum melakukan olahraga. Kompres hangat setelah melakukan olahraga dapat memperburuk nyeri yang sudah ada.

Kompres hangat harus diletakkan pada area yang cedera selama 20 menit (hingga tiga kali sehari) kecuali terdapat indikasi lain.

Penting untuk diperhatikan bahwa kompres hangat tidak dapat diberlakukan pada cedera tertentu. Misalnya, setiap cedera yang sudah “panas”, seperti infeksi, luka bakar atau cedera baru, tidak akan mendapatkan manfaat dari kompres hangat. Bila kulit panas, memerah atau meradang, terapi dingin biasanya menjadi pilihan yang lebih baik. 

Jenis Terapi Panas

Terdapat dua jenis terapi panas.

Kompres hangat lokal pada area spesifik dengan:

  • Botol air panas
  • Bantalan pemanas
  • Handuk

Panas sistemik meningkatkan suhu tubuh dengan:

  • Mandi air hangat
  • Sauna
  • Mandi uap
  • Mandi shower hangat

Tips untuk Kompres Hangat

  • Lindungi diri Anda dari kontak langsung dengan alat pemanas.
  • Bungkus sumber panas dengan handuk untuk mencegah luka bakar.
  • Hindari dehidrasi selama terapi panas sistemik.
  • Hindari paparan yang terlalu lama terhadap terapi panas sistemik.

Krioterapi untuk Meredakan Nyeri

Terapi dingin disebut juga dengan krioterapi. Penting untuk diingat bahwa krioterapi terutama digunakan untuk pereda nyeri. Bila berdiri sendiri, krioterapi tidak akan memperbaiki apapun, dan terkadang, bila masalahnya adalah kram, terapi dingin dapat meningkatkan spasme.

Cryotherapy gun

Sumber gambar: wikipedia.org

Cryotherapy chamber

Sumber gambar: medicalexpo.com

Secara umum, terapi dingin digunakan pada cedera baru. Ketika tubuh kita cedera, jaringan yang rusak akan mengalami peradangan. Peradangan dapat menyebabkan nyeri, pembengkakan, atau kemerahan.  

Pembengkakan adalah respons alami tubuh terhadap cedera. Sayangnya, pembengkakan setempat cenderung menekan jaringan di sekitarnya yang menyebabkan nyeri.

Untuk nyeri punggung, terapi dingin seringkali kurang bermanfaat. Hal ini mungkin disebabkan karena cedera sudah berlangsung lama, atau bila jaringan yang bermasalah berada di bawah jaringan yang lain sehingga tidak tercapai oleh kompres dingin.

Nyeri punggung seringkali disebabkan oleh “ikatan” pada otot yang dapat diperburuk dengan terapi dingin. 

Bagaimana Terapi Dingin Membantu Anda?

Suhu yang dingin dapat membuat daerah yang cedera menjadi baal, yang dapat mengurangi rasa nyeri dan ketegangan otot. Suhu dingin menyempitkan pembuluh darah dan memperlambat aliran darah. Hal ini dapat mengurangi cairan yang menumpuk di area yang cedera sehingga membantu mengendalikan peradangan dan pembengkakan. Terapi dingin dapat meredakan nyeri, tetapi tidak menyembuhkan penyebab yang mendasari.

Kapan Terapi Dingin Digunakan?

Terapi dingin paling baik untuk nyeri akut yang disebabkan oleh kerusakan jaringan yang baru terjadi (peradangan akut) yang berwarna kemerahan, meradang, atau sensitif.

Terapi dingin juga dapat membantu meredakan peradangan atau nyeri yang terjadi setelah berolahraga; hal ini merupakan bentuk dari peradangan akut. Akan tetapi, tidak seperti terapi panas (yang digunakan sebelum berolahraga bila Anda masih dalam kondisi cedera), Anda harus menggunakan terapi dingin setelah berolahraga.

Terapi dingin terkadang dapat membantu meredakan nyeri pada cedera kronis. 

Jenis Terapi Dingin

Terapi dingin hanya boleh dilakukan pada satu lokasi dan tidak boleh digunakan lebih dari 20 menit. Anda dapat melakukan terapi dingin dengan menggunakan: 

  • Kantung es – isi dengan sebagian air, keluarkan udara yang tersisa, rapatkan plastik. Gunakan handuk untuk membungkus kantung es ketika mengompres daerah yang cedera.
  • Handuk es – handuk lembab yang dimasukkan ke dalam plastik tertutup dan dimasukkan dalam freezer selama 15 menit
  • Pijat dengan es
  • Gel dingin
  • Kantung sayuran beku

Tips Penggunaan Terapi Dingin

  • Gunakan segera setelah cedera atau olahraga dengan benturan tinggi.
  • Selalu bungkus kantung es dengan handuk sebelum mengompres area yang cedera.

Sumber gambar: wikihow.com

  • Anda boleh berulang-ulang mengompres jaringan yang nyeri atau bengkak, akan tetapi berikan jeda agar tubuh dapat beristirahat.
  • Jangan gunakan es pada area yang memiliki masalah sirkulasi.
  • Jangan gunakan es lebih dari 20 menit – Anda harus menggunakan kompres dingin setidaknya 20 menit, setiap 4 – 6 jam. Lakukan selama tiga hari pertama setelah cedera.

Penggunaan kompres dingin yang berlebihan dapat menyebabkan kerusakan jaringan.

 

 

Referensi:

physioworks.com.au/physiotherapists_brisbane

www.healthline.com

www.hopkinsmedicine.org

www.medicalnewstoday.com/articles/29108.php

Share :

Sosial Media Flex Free Clinic

Ikuti perkembangan informasi terbaru melalui sosial media kami

Copyright © 2014 - www.flexfreeclinic.com